Para Legenda Kroasia Harus Ikhlas Menonton Prancis Mengangkat Trofi Piala Dunia

Luka Modric mengatakan Kroasia adalah tim yang lebih baik di final Piala Dunia dan menyebut Golden Ball sebagai hadiah hiburan belaka
Gelandang Real Madrid Modric bernama pemain terbaik turnamen setelah kalah final ke Prancis.

Para gembong  Kroasia dipaksa untuk menonton Prancis mengangkat trofi yang dia harapkan untuk naik ke dalam awan gelap di atas Luzhniki.

Modric benar-benar mendapatkan hadiah utama turnamen, menjadi pria ketujuh dari delapan terakhir – dan keenam berturut-turut – untuk memenangkan bola emas Piala Dunia tetapi tidak mengangkat trofi terbesar dalam olahraga.

Dan mantan pemain  Spurs itu mengakui: “Tentu saja saya bangga – tetapi yang ingin saya capai adalah trofi Piala Dunia.

“Saya ingin memenangkan ITU, untuk Kroasia. Itu tidak terjadi. Itu saja, itu saja.

“Kita semua memiliki sensasi yang sama, bahwa kita tidak beruntung. Kami bermain dengan baik dan tim yang lebih baik tetapi terkadang tim yang lebih baik tidak menang. ”

Toto Schillachi dari Italia memulai rangkaian Golden Ball yang aneh pada tahun 1990, meskipun Brasil Romario merasakan buah dari kedua kemenangan empat tahun kemudian.

Namun sejak saat itu, Ronaldo pada tahun 1998, Oliver Kahn dari Jerman, legenda Prancis Zinedine Zidane, Diego Forlan dan Lionel Messi dari Uruguay empat tahun lalu semuanya memiliki trofi sebagai hadiah hiburan.

Presiden federasi sepak bola  Kroasia dan mantan striker Arsenal Davor Suker mengatakan: “Saya sangat bahagia untuknya. Dia adalah seorang legenda  dan saya harap dia adalah legenda dalam tim selama bertahun-tahun ke depan. ”

Modric sendiri berhasil menjadi pemain terbaik dalam turnamen kali  ini.

Banyak Pemain Argentina Yang Tidak Bisa Imbangi Messi

Timnas Argentina harus angkat koper dari Russia, usai mereka tersingkir dengan dramatis atas Prancis di babak 16 besar Piala Dunia 2018. Tapi menurut pelatih Argentina, Jorge Sampaoli jika kegagalan dari tim Tanggo ketika menghadapi Prancis adalah para pemain Argentina tidak mampu menyeimbangi permainan Lionel Messi.

Seperti yang kita ketahui, jika Argentina harus di kalahkan oleh Prancis dengan skor 4-3 yang membuat Messi dan kawan kawan harus angkat koper segera. Penampilan Messi pada pertandingan tersebut menjadi sorotan banyak orang, mengingat ia bersusah payah menyelamatkan tim Tanggo dari kekalahan. Apalagi gol kedua dari Argentina merupakan assist yang di berikan oleh La Pulga.

Meskipun  tidak mencetak gol pada pertandingan tersebut, Messi sendiri sukses mencetak dua Assist tapi setelah ia berhasil berkontribusi atas dua gol tersebut. Magisnya sama sekali tidak terlihat. Bahkan ia hanya berhasil menembak ke gawang sebanyak empat kali dengan satu peluang yang tepat sasaran. Dia juga berhasil mencatakan tiga kali melewati para pemain bertahan lawan.

Dan assist yang di ciptakannya yang mengarah ke gawang yang di cetak oleh kaki Gabrierl Mercado bermula bola yang benturnya.

Namun sebenarnya banyak yang menilai jika taktik yang di usung Sampaoli yang membuat Argentina tersingkir mengingat ia memasang tiga bek tengah yang sangat rawan untuk menghadapi tim sekaliber Prancis. Tapi mantan pelatih Sevilla itu mengatakan justru sebaliknya ia menggunakan taktik tersebut untuk mengeluarkan kemampuan dari Messi.

”Saya melihat kami membutuhkan gaya bermain yang memainkan penguasaan bola, karna itu merupakan permainan yang sering dimaikan oleh Leo. Kami mencoba untuk bermain seperit itu,namun banyak pemain yang tidak mampu bermain mengikuti level permainan Messi.” ujarnya.